10 November 2025
Dilihat 103 kali
Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis data kinerja perdagangan ekspor dan impor produk perikanan Indonesia untuk periode Januari hingga September 2025. Data tersebut memperlihatkan tren positif yang berkelanjutan dengan total nilai ekspor mencapai USD 4,52 miliar dan total volume ekspor sebesar 1,00 juta ton. Capaian nilai ekspor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,7% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024.
Amerika Serikat (AS) masih mengukuhkan posisinya sebagai pasar utama produk perikanan Indonesia dengan nilai ekspor sebesar USD 1,50 miliar. Angka ini berkontribusi sebesar 33,1% terhadap total ekspor nasional dan mengalami kenaikan 8,4% secara Year on Year (YoY). Di posisi kedua, Tiongkok mencatatkan nilai ekspor USD 812,76 juta (turun 4,7%), disusul oleh ASEAN yang mengalami lonjakan signifikan sebesar 24,4% menjadi USD 711,99 juta. Pasar Jepang dan Uni Eropa juga menunjukkan tren positif masing-masing sebesar USD 448,29 juta (naik 2,1%) dan USD 331,32 juta (naik 7,1%).
Dari sisi komoditas, Udang masih menjadi andalan ekspor nasional dengan nilai mencapai USD 1,40 miliar atau menyumbang 30,9% dari total nilai ekspor. Kinerja ekspor udang tumbuh impresif sebesar 17,5% dibanding tahun sebelumnya, dengan pasar utama Amerika Serikat yang menyerap 63,1% dari total ekspor udang Indonesia.
Komoditas Tuna-Cakalang juga mencatatkan kinerja positif dengan nilai USD 763,51 juta, tumbuh 2,8% (YoY). Namun, beberapa komoditas utama lainnya mengalami koreksi, yaitu Cumi-Sotong-Gurita (USD 574,75 juta, turun 2,4%), Rajungan-Kepiting (USD 377,65 juta, turun 4,6%), dan Rumput Laut (USD 233,86 juta, turun 8,7%).
Di sektor impor, total nilai impor produk perikanan hingga September 2025 tercatat sebesar USD 463,55 juta dengan volume 308,91 ribu ton. Nilai ini meningkat 26,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Negara asal impor terbesar adalah Tiongkok (USD 96,27 juta), diikuti oleh ASEAN (USD 52,16 juta), dan Amerika Serikat (USD 44,97 juta).
Meskipun impor meningkat, neraca perdagangan produk perikanan Indonesia tetap mencatatkan surplus yang solid sebesar USD 4,06 miliar, atau naik 4,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor hanya berkisar 10,3% dari total nilai ekspor, yang menegaskan posisi Indonesia sebagai negara net exporter produk perikanan.
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya meningkatkan kinerja ekspor melalui berbagai langkah strategis. Fokus utama saat ini meliputi koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk mematuhi regulasi US Marine Mammal Protection Act (US MMPA) melalui penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dan sosialisasi Certification of Admissibility (COA). Selain itu, pemerintah juga gencar melakukan sosialisasi implementasi Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI) untuk pasar Jepang serta memperluas akses pasar non-tradisional melalui berbagai perundingan dagang internasional.